Sinopsis Beautiful Love, Wonderful Life Episode 5 Part 3

Sinopsis Beautiful Love, Wonderful Life Episode 5 Part 3 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini. Kita masih di percakapan Hakim Hong dan adiknya Pimpinan Hong. “kakak meminta autopsi.”

“Menurut Unnie ini pembunuhan? Apa gadis itu membunuhnya?”

Hakim menggeleng.

“Lalu kenapa? Ada apa? Jika dia tidak dibunuh, artinya dia bunuh diri. Itu bahkan lebih tidak masuk akal. Untuk apa Joon Kyum bunuh diri? Dia pintar dan berasal dari keluarga kaya. Ibunya seorang hakim dan ayahnya profesor. Dia akan masuk kuliah sebagai murid andal. Apa kekurangannya sampai dia melakukan hal seperti itu? Itu tidak masuk akal. Lalu apa yang tersisa? Kematian tidak disengaja… benar. Dia meninggal karena kesialan. Tidak… dia mati karena gadis dengan kesialan.”

“Tunggu. Ada apa Imo?” tanya Do. “Pasti ada alasan Imo melakukan autopsi.”

“aku ingin memastikan bahwa Joon Kyum tidak bunuh diri.” Ucap Ibu Hakim dalam hati.

“Imo?”

“Aku hanya ingin memastikannya. Aku tidak bisa membiarkannya pergi semudah itu berdasarkan ucapan gadis 19 tahun.”

“Siapa nama gadis itu?” tanya Pimpinan Hong. “Dia bersekolah di mana? Apa pekerjaan orangtuanya? Aku tidak akan pernah membiarkannya begitu saja.” Ucap Pimpinan Hong. “Aku akan mencekiknya dan melemparkannya ke sungai Han. Dia masih anak ingusan. Bagaimana dia menginap di penginapan dengan anak laki-laki? Aku akan menjambak rambutnya.”

***

Hakim Hong dibaringkan. “Kamu sudah menghubungi Joon Hwi?”

“Aku akan meneleponnya usia menetapkan tanggal pemakaman.”

“Kakak akan sendirian seperti ini sampai saat itu?”

“Aku tidak sendirian. Aku punya ahjumma dan kamu di sini.”

“Unnie sangat aneh. Aku akan menunggu di luar. Hubungi aku jika butuh sesuatu.”

****

Keluarga Kim pun berusaha bersikap normal. Mereka makan bersama.

Rupanya Seol Ah akan ke gereja di apgyujeong hanya karena di sana banyak jemaat yang kaya dan punya jabatan. Seol Ah bahkan tidak malu mengakuinya di depan keluarga. Ke gereja bukan untuk ibadah tapi untuk manusia.

“Kim Seol Ah, sudahlah. Kamu akan terluka.” Ucap Ahjumma.

“Kenapa dia akan terluka?” tanya ayah.

“Karena aku dan kamu.” Jawab ahjumma. *maksudnya karena keluarga Seol Ah berasal dari orangtua miskin.

****

Saat mereka makan. Ada polisi datang.

“Kami hanya akan memeriksa kamar Cheong Ah.”

“Untuk apa?” tanya ahjumma.

“Ini hanya prosedur standar.”

“Kalian datang tanpa pemberitahuan pada hari minggu pagi dan menyebutnya prosedur standar?” tanya ayah.

“Karena Ibunya hakim bukan?”

“Kami hanya menjalankan tugas.”

****

Kim Seol Ah di pintu bicara pada detektif. “Mana surat perintahnya. Kubilang aku ingin melihat surat perintahnya.”

“Kami tidak punya.”

“Itu hukum dan peraturan. Kami akan bekerja sama jika kalian membawa surat perintah.” Akhirnya dua detektif akan pergi.

“Apakah putrimu lupa menaruh ponselnya setelah dia menelepon 911?” tanya detektif.

“Ya.” Jawab ahjumma.

Polisi pergi dan ayah senang.

****

“Seharusnya aku lebih sering bertemu dengan Joon Kyum.” Ucap Do pada Ibunya. “Memang kenapa jika kami sepupu? Kami seperti orang asing. Hanya ada kami bertiga. Tapi sangat sulit.”

“Ini semua salah kakekmu. Dia pilih kasih. Joon Hwi sayang. Joon Kyum sayang…”

“Itu karena dia menyukai Imo. Tentu saja dia akan menyayangi anak-anak Imo.”

“Apa? Maksudmu ini salah Omma? Ketahui dulu faktanya. Joon Hwi dan Joon Kyum amat unggul. Kamu peringkat terakhir di kelasmu.”

“Karena aku menyerahkan lembar jawaban kosong. Omma menyuap seseorang untuk mencuri salinan kertas ujian.”

“Kamu tidak bisa menerimanya?”

“Aku menolak menggunakan keunggulan itu.”

“Jangan menyombongkan diri karena kamu payah di sekolah.”

“Bukannya tidak bisa. Aku memeilih tidak melakukannya. Hentikan itu. Kenapa aku harus masuk univ seol. Aku memperkerjakan mereka sekarang.”

“Bagaimana jika Joon Hwi pulang dari Oxford?”

Kemudian ahjumma datang. Memberikan ponsel Hakim dan ternyata isinya banyak wartawan yang kepo. Pimpina Hong melihat wartawan yang menghubungi adalah wartawan yang suka bikin gosip.

Do berkata. “Sebelum mereka membuat berita. Kita harus membuat berita lebih dahulu. Ini bisa menjadi nilai plus bagi citra perusahaan.”

“Apa? Nilai plus? Bukan minus?”

****

Ahjumma langsung mengambil ponsel dari tempat toge. Kemudian ada suara seperti barang percah. Ia kaget.

Bersambung… klik di sini kelanjutannya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat