Review Drama Korea Penthouse Musim Pertama (2021)

Review Drama Korea Penthouse Musim Pertama (2021) – Yaahhh. Sampai juga dibagian ulasan. Kesan pertamanya di sini (saya bilang ogah-ogahan ngikutin gitu). Tapi karena ada waktu luang, akhirnya saya ikut juga. Tapi yaaahh agak lama. Kalau kesel saya percepat aja videonya *ketawa jahat.

Ada beberapa perbedaan dari profil lama dan baru, diantaranya drama ini nambah episode. Tapi nanti bakalan ada musim keduanya.

  • Drama: Penthouse
  • Revised romanization: Penthouse
  • Hangul: 펜트하우스
  • Director: Joo Dong-Min
  • Writer: Kim Sun-Ok
  • Network: SBS
  • Episodes: 21
  • Release Date: October 26 – January 5, 2021
  • Runtime: Monday & Tuesday 22:00-23:10
  • Language: Korean
  • Country: South Korea

*hah???? Musim kedua? Wkwkkw.

Ajaib emang drama isinya orang nggak ada akhlak tapi kok panjang bener episodenya. Nanti tayang kembali di bulan febuari 2021.

Saya ngerasa udah kayak sinetron Indonesia aja. Yang mana, makin laku, episode makin banyak aja.

Karena sudah ngomongin profil dll di kesan pertama (di sini tulisannya), maka saya mau nulis komentarnya saja. Mohon maaf kalau ada spoiler dikit-dikit.

Soal Tema Makjang

Ada yang suka tema drama Makjang?

Setelah nonton drama ini, saya mendeklarasikan diri sebagai penonton drakor yang nggak terlalu suka sama Makjang. Walau di tahun sebelumnya, dan pada penulis yang sama. Saya sukses nonton The Last Empress.

Untuk karya dari Kim Sun Ok saat ini bikin saya merasa jengah aja lama-lama.

Saya boleh kasih perbandingan di drama Kim Sun Ok sebelumnya ya.

Gini guys.

Dulu, ada tema kerajaan, saat ini ada tema orang kaya yang tinggal di bangunan tinggi. Raja adalah posisi tertinggi. Kemudian bangunan di sini ada di tempat yang tinggi. Mahal pula.

Di tema The Last Empress ada kisah perselingkuhan. Bahkan Raja berkaitan dengan banyak wanita. Di sini, sosok Joo Dan Tae juga laku keras dikalangan wanita. Ada yang main belakang, ada juga yang sok cinta suka rela. Geleng-geleng saya, kalian mau? Sama cowok nggak ada akhlak kaya gini? Cuma orang gila yang mau.

Yap betul. Terlalu banyak orang gila di sini.

Ada yang mati di sini juga. Anak dari peran utama wanita yang kemudian menimbulkan perasaan dendam. Ingat Sunny pada zaman The Last Empress? Nenek meninggal, alias ibu suri. Menjadi pemantik Oh Sunny yang punya power dari lugu menjadi penuh dendam.

Shim Su Ryeon juga sama saja.

Ingat kisah pembantu istana yang ternyata mengandung anak raja? Di sini juga sama ribetnya soal anak-anak yang mereka punya.

Hanya saja, drama ini memunculkan kisah anak remaja yang lebih kompleks dan tidak tahu diri.

Masalah Selera, Saya Nggak Suka

Di The Last Empress juga mengecewakan masalah ending. Apalagi karena bukan masalah perpanjangan episode yang membuat pemainnya dihapuskan begitu saja.

Ending drama ini lebih parah.

Saya kecewa berat kenapa demikian. Tapi kemudian akan muncul musim kedua.

Ini membuktikan bahwa penulis tidak menyelesaikan naskahnya sebelum dramanya selesai. Dia bisa saja menarik ulur banyak cerita kemudian punya potensi untuk sangat-sangat ambyarr di masa yang akan datang.

Kalau gini. Kenapa nggak sekalian dibuat 50 episode aja. Atau 100 dalam durasi 30 menit. Itu membuat penonton cukup tahu diri kalau yang mereka ikuti adalah drama yang cukup panjang.

Saya Tidak Menikmati Musik Klasik di Sini

Apa sih namanya?

Yang nyanyinya kayak Isyana itu? yang berasa sekali eropanya.

Sorry, saya bilang ini jelek. Saya nggak bisa membedakan suara satu dengan yang lain. Suara mereka terdengar sama di telinga saya sampai saya nggak bisa kasih penilaian logis soal bakat.

Apa mungkin saya menilai berlebihan? Entahlah.

Untuk kisah remajanya aja banyak banget yang nggak masuk akal. Semacam bukan percontohan yang baik bagi manusia yang dalam proses pembentukan kepribadiannya.

Peran Tambahan yang Tidak Kalah Ribetnya

Siapa yang menyepelekan Shin Eun Kyung? Sebelumnya dia jadi Ibunya Raja di The Last Empress dan karakternya hampir sama saja.

Sama-sama bajingan.

Siapa yang tidak tahu Bong Tae Gyu? Dia main Return dan sangat menyebalkan pula.

Kalau lihat sana-sini, saya merasa terlalu banyak porsi orang jahatnya dibandingkan protagonisnya. Tidak adil.

Dahla, drama ini bikin capek.

Kesimpulan Review Drama Korea Penthouse  Musim Pertama (2021)

Nggak suka. Tapi ditonton. Bukan tidak suka sama kualitas akting. Tapi tidak suka dengan drama makjang yang dimana terlalu banyak orang jahatnya.

Mungkin kalau kamu butuh emosi geram, kamu mungkin suka sama drama ini.

Tapi bagi saya yang demen sama drama yang bagus dan banyak mewakilkan realitas kehidupan dan perasaan. Jelas drama ini jauh akan hal itu.

Sebuah drama yang melelahkan.

Cek saja posternya.

Semua karakter memandang ke atas. Memandang tempat tertinggi di dunia. Oleh karenanya, hati mereka sangat keras. Kemudian diwujudkan dalam perilaku juga.

Drama ini meresahkan, nggak bikin nyaman sama sekali.

Kalau dibandingkan dengan The Last Empress. Malah lebih bisa dinikmati. Penthouse terlalu banyak hal yang nggak masuk akal.

Tapi mau gimana lagi? Rating oke kan ya??? makanya SBS bikin musim kedua. TV nasional nanti main makjang nih ya. TV kabel yang tema lainnya.

Kalian suka sama drama ini?

Saya sih. yaaah tahu sendiri.

Previous Post

No more post

You May Also Like

16 Comments

  1. Mengenai musik klasik, sebenarnya suara mereka beda kok. Sulih suara dilakukan oleh mahasiswa seni kecuali Ma Du Ki ( dia menyanyikannya sendiri ).
    Mengenai season, sebenernya sudah direncanakan dari awal bukan karena ratingnya tinggi.
    Drama semacam ini selalu laku keras di Korea sana apalagi garapan Kim Sun Ok chakkanim yg memang spesialis drama makjang semacam ini. Tapi kalau dibandingkan dengan sinetron indo tentu jauh perbedaannya, dari kualitas akting saja, sampai setting dll yg tentu saja lebih baik
    Akting Kim So Yeon disini sangat mengesankan karena ini adalah peran antagonis nya sejak 20 tahun. Sangat keren dan tidak pernah takut jelek dalam berekspresi.

  2. Sepertinya masalah selera aja ya min. Karna kalo drama ini jelek di bagian kualitas akting, ga mungkin rating nya tinggi banget apalagi di bikin sampe season 3. Buktinya mimin yg awal nya ogah ogahan nonton, akhirnya toh ngabisin jg kan drama makjqng ini walaupun akhirnya tetep kecewa sama ending? Karna bnyk yg ketagihan jg mungkin sama drama ini sampe 3 pemain utama nya dapet banyak awards

    1. Kayaknya mimin udah bilang kualitas aktingnya bagus. Cman dramanya aja kelewatan drama nggak masuk akal

  3. Min, skarang ini di korea sedang naik daun drama genre BL (boys love).Pendapat pribadi sih, aku merasa risih, tapi adikku cewek malah demen banget nontonnya,,
    ,, kira2 pendapat mimin ttg drakor genre ini bgmana?

    1. Record of Youth itu bisa dibilang ngangkat tema BL tidak? Yg scene Park Bo Gum ditawari sponsor sama om2. Wkwk saya sih rasanya lucu aja. Adik cewek saya juga suka drama BL dan semua yg berbau BL tuh, mulai dari drama thailand, wattpad, dll . Ga ngerti isi pikirannya. Tapi setelah lihat Record of Youth kok saya jadi penasaran pingin liat drama BL lainnya ya…wkwk

      Btw mimin habis ngubah tampilan webnya nih…. bagus min. suka

    2. stauku kmarin ada when your eyes my linger n your melody in my eyes, jg color eyes,

      .. btw kim namgil jaman dulu prnah main film begituan juga, lupa judul n tahunx,,

  4. Saya jug a gak suka liat drama ini. Capek min…capek…. Kayaknya seleraku sama adminnya miriip deh. Perbedaan selera itu benar-benar nyata adanya…. adek ku akhir-akhir ini nonton Penthause, dan ikut nyanyi “Aaaaaaa aaaaaaa aaaaaaaaaa”, terus bilang “wah akujuga bisa jadi penyanyi klasik”….

    Aku mulai suka musik klasik sih beberapa tahun belakangan ini, soal Bong Tae Gyu aku ktawain ajalah. Tapi seperti yang mimin bilang di sini lebih banyak karakter evilnya ketimbang yg protagonis. Aku awalnya download 2 episode kan, mau liat kayak apa. Nonton episode 1 aja udah gak kuat….nyerah. Angkat bendera putih ajalah

  5. Dulu sy pikir WoM lah drama yg paling ngeselin n menguras emosi trs ada sky castle eeeh ternyata penthouse malah yg paling makjang dr yg sblmnya. Duuh..nonton ini bikin tensi naik..abis nonton bknnya hepi malah kesel dan aku satu server sm kakak admin..bkn penikmat drama makjang.
    Drama kog semua karakterny dajjal semua..ga yg tua, yg muda, yg kaya, yg miskin.. dajjal semua 😈😈.
    Dan karakter yg paling meh bgt adlh anak gadis miskin yg ibunya pontang panting jd single parents tp si anak gatau diri pengen msk sekolah elit pake ngamuk tantrum.. sampe akhirny si ibu jd pembunuh.
    Dan aku pun menyerah ga sanggup nonton sampe tamat cm baca review2 di internet aj…

  6. Kalo aku yang heran banget sama anak miskin bo ra itu, udah tau miskin, bukan anak siapa2, ngapain coba ngotot sekolah di sma tau ah elap itu. Kagak ada sekolah lain apa. Udah ngotot nyalahin ibunya yang miskin pula… idih naudzulilah banget….
    Lebih ke ada orang segila itu yaaa,, trus sadar diri ..namanya juga drama.. yah terserahlah..
    Dr tiga drama yg tayang hampir berbarengan net-yong pal, trans – penthouse, ama kdrama – pasta… ku parkir di pasta. Biar liat puluhan kali, tetep pilih yang ini….

  7. Yaampunn, tulisan ini mewakilkan sekali perasaan saya setelah nonton beberapa eps
    Saya kira cuma saya yang ga suka sama drama semacam ini, yang bikin naik darah dan capek tiap nontonnya
    Semua karakter disini bikin emosi, emang bener sih judulnya war of life wkwk
    Emang ya selera beda-beda

  8. Spoiler season 2 episode 1 : Hye In nemu buku Death Note. Nama sutradara sama penulis naskahnya ditulis di buku. END.

    Yang bikin drama, punya masalah hidup apa sih ya? Karakter antagonisnya udah banyak banget, overpower semua. Protagonisnya udah lemah, miskin, tertindas, goblok pula. Gampang banget ketipu. Dikit-dikit nangis, “Ro Na! Ro Na!”. Tuh Ro Na, kalo di Padang pasti udah dikutuk jadi batu. Kalau karakter antagonis nyebelin wajar lah. Ini sampai karakter protagonisnya juga nyebelin.

    Awalnya simpati sama karakter Min Seol ah. Biarpun sering kesusahan, tapi baik dan mentalnya kuat. Tapi pas kilas balik, udah tau mau dibunuh, udah bisa kabur, yang ngejar udah jatuh, ketemu orang yang mau nolongin. Malah mau balik lagi, mau ngambil handphone. Sutradara film mana, di kehidupan nyata, ada orang mau dibunuh, sempet-sempetnya mikirin hape? Kalo iphone masih mending! Ini mah hape xiaomi loh! Sungguh tidak masuk akal! Matinya gara-gara hape xiaomi!

    Biarpun dari episode 1, isinya 99% adegan bikin kesel, pembulian, fitnah, perselingkuhan, penindasan, penipuan, teriak-teriak, jambak-jambakan, tapi tetep optimis, siapa tahu ada episode dimana protagonisnya tiba-tiba kesamber petir terus jadi pahlawan super. Dapat kekuatan buat melawan penjahatnya gitu. Siapa tau ya? Eh, ternyata makin lama jalan ceritanya malah makin parah. Makin bikin emosi. Terus anehnya jalan ceritanya kayak udah bisa ketebak, pasti adegannya antara dua: kalo gak nyebelin, pasti bikin kesel.

    Biarpun nyebelin tapi tetep nonton sampai abis. Siapa tahu antagonisnya mati satu-satu. Penasaran aja, cara matinya gimana tuh. Eh, sampai akhir gak mati-mati. Malah protagonisnya yang pada mati. Sutradara film mana, yang di kehidupan nyata, karakter protagonis disiksa dari episode 1 sampai episode akhir, terus endingnya mati? Ngapain dibikin drama? Cukup di dunia nyata aja banyak ketidakadilan. Sungguh drama yang tidak masuk akal!

    Hikmah dari drama ini : kalau koruptor dihukum menonton drama ini, pasti langsung tobat memohon ampun.

Tinggalkan Balasan ke Eka Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!