Menonton Drama Korea yang Sama Berulang Kali

Menonton Drama Korea yang Sama Berulang Kali – Kalau ada yang tanya sama saya. Drama apa yang bisa saya tonton berulang kali. Maka setidaknya ada dua jawaban, yang pertama adalah My Mister dan Because This is My First Life.

Ada dua magnet bagi keduanya sama seperti membaca sebuah buku. Bisa jadi pada momen yang berbeda, saya mendapatkan pengalaman menonton yang berbeda daripada sebelumnya.

Kenapa My Mister?

Tidak ada ucapan cinta yang lebih menggetarkan dibandingkan ucapan Ji An pada Ahjussinya. Belum ada sejauh ini. Meski pada kesempatan hidup keduanya, mereka bukan pasangan. Yang satu tetap dengan kehidupannya, yang satu dengan kehidupannya yang lain.

Mereka setidaknya lebih bahagia. Itu sudah membuat saya sebagai penonton merasa lebih baik.

Park Hae Young penulisnya juga merupakan penulis kesayangan saya, doi juga nulis drama Another Miss Oh yang mana merupakan drama kesayangan saya juga.

Gelap.

Sakit.

Tidak manis.

Tapi entah kenapa bisa seindah itu.

Saya bahkan bisa menangis tanpa benar-benar menangis.

Lucunya, setelah melihat adegan Ahjussi diselingkuhi istrinya dan mereka bertengkar dengan meluapkan emosinya. Saya masih bertanya-tanya kenapa manusia itu kompleks sekali?

Kenapa kebaikan, bisa menjadi ketidaknyamanan bagi yang lainnya? Alih-alih geram dengan ahjumma yang selingkuh dengan bosnya ahjussi, saya malah kayak saudara-saudara Park Dong Hun yang sama-sama hatinya lara karena saudaranya disakiti.

Seberhasil itu sebuah drama mengajak saya merasakan emosi kuat dalam drama ini.

 Yah, My Mister seperti “teman” bahwa kita sama-sama sedang berjuang dengan kisahnya masing-masing. Bahwa dalam ketidaksempurnaan hidup, kita bisa saling mengisi dan berbuat baik. Tidak peduli agama, umur, jenis kelamin, atau yang lainnya. Berbuat baik saja.

Tunjukkan kalau kita benar-benar manusia.

Kenapa Because This is My First Life?

Jujur aja drama itu masih nyantol dan diperbaharui terus di aplikasi netflix milik saya. Sesekali saya nonton random episode. Sesekali saya nonton semuanya dengan runut.

Bagi saya. Terlalu banyak hal bisa diwakili oleh drama ini.

Ji Ho misalnya. Ia berjalan di lorong saat hampir diperkosa oleh Asisten Sutradara kemudian akhirnya memilih jalan pulang kampung (meski balik lagi karena mau kawin sama Se Hee).

Saya mengingat diri saya yang sama-sama 30 tahun dan keluar dari pekerjaan. Saat itu bener-bener pulang tanpa apa-apa. Saya pulang siang hari saat itu, menyetir sepanjang 21 km terakhir yang bisa dinikmati. Saya tidak menangis. Saya mengikhaskan semuanya dan benar-benar pulang.

Dalam hati saya, ada perasaan mengasihani diri sendiri. Sekaligus rasa kagum bahwa saya sudah melaluinya dengan waktu yang tidak sebentar.

Terus masih ingat nggak kekhawatiran Ji Ho bahwa tidak ada jalan menuju hatinya Se Hee. Sampai ada di titik dia juga menyerah. Ya, itu pernah saya rasakan dimana saya sama sekali tidak menemukan jalan untuk menuju hati seseorang. Sampai seseorang itu harus saya lupakan. Beda kisahnya. Cuma berdasarkan cocokologi, perasaan sama pernah kami rasakan. *nyama-nyamain sama Soo Min.

Pada Horang, salah satu teman Ji Ho. Saya merasakan perasaannya saat cerita tentang ahjumma dengan baju merah. Diceritakan Horang kalau pakai pakaian bisa seperti lampu lalu lintas, merah, kucing, hijau, sungguh mencolok. Tapi ada kalanya baginya sudah cukup enggan tampil mencolok.

Semua merujuk pada keinginan Horang yang tidak ingin seperti ahjumma berbaju merah. Ahjumma berbaju merah diceritakan tidak menikah, apalagi punya anak. Hanya sibuk bekerja yang membuat ahjumma tidak kekurangan uang.

Saat berkumpul dengan teman-temannya. Ahjumma mentraktir semua temannya yang rata-rata sudah menikah dan punya anak. Sayangnya, meski ahjumma yang membayar, ahjumma ditinggal sendirian dan para ahjumma lainnya merasa ahjumma berbaju merah berbeda dengan mereka, makanya tidak diterima di beberapa momen.

Horang enggan tampil mencolok. Makanya, dia ingin sekali menikah. Impiannya hanya menjadi seorang istri dan ibu. Ia hanya tidak ingin menyedihkan seperti ahjumma berbaju merah.

Saya jadi ingat kisah saya makan dengan tiga teman kerja saya di tempat lama. Ketiganya telah menikah dan punya anak. Satu persatu mereka menceritakan anak-anak mereka. Begitulah kehidupan para Ibu muda yang sedang sibuk mengasuh anak-anaknya.

Saat suapan demi suapan masuk ke dalam mulut. Saat kalimat-kalimat itu muncul dari mulut mereka. Tidak ada satu kalimatpun mampu saya sambung dari obrolan mereka. Tidak ada anak yang bisa saya kisahkah.

Ada momen di mana saya saya merasa diterima kelompok seperti kata Horang sangat masuk akal. Begitulah manusia dengan keinginannya akan eksistensi dan mempertahankan hidup. Konon, manusia bertahan hidup lebih lama jika bersama dengan orang lain. Impian Horang sangat masuk akal.

Tapi…

Ada titik dimana saya juga diwakili oleh Soo Ji.

Soo Ji. Soo Ji yang tahu bagaimana mencari uang, meski hidup jadi karyawan biasa untuk bertahan hidup padahal impiannya adalah menjadi “sajang-nim”. Meski dari usaha kecil.

Saya masih ingat saat Soo Ji yang begitu percaya diri dihadapan orang lain, menjadi tidak begitu percaya diri ketika diajak punya hubungan serius dengan Ma Taepyo. Soo Ji takut tidak diterima akan kondisinya. Sebuah kondisi yang tidak bisa ia pilih, lahir dari ibu tunggal yang pincang dan tidak tahu siapa ayahnya.

Kita sama-sama tahu ketika banyak nonton drakor. Dimana keluarga punya peran penting dalam status sosial manusia. Keluarga yang dalam hal ini adalah latar belakang bisa menjadi neraka atau surga bagi manusia di dunia.

Banyak hal juga membuat saya seperti Soo Ji. Tidak percaya diri. Saya seperti penulis yang bingung bagimana menggambarkan hal-hal mengenai keluarga. Saya punya terlalu banyak cerita rumit yang tidak bisa dikisahkan sekali cerita.

Keluarga.

Tempat dimana kita tidak bisa memilih bukan?

Dan tentu saja. Saya juga merasa diwakili oleh peran utama pria. Nam Se Hee.

Algoritma hidupnya tidak jauh dari pekerjaan, kucing dan juga mengurusi cicilan apartemennya. Se Hee perpandangan bahwa hidup yang ia jalani adalah pilihan yang bisa dipertanggung jawabkan. Pada ketiga hal ini dia melakukan yang terbaik yang dia bisa.

Yah. Di beberapa hal saya cukup bisa tertawa. Bahwa saya juga tidak jauh dari kucing, pekerjaan, dan membayar utang yang entah kapan mau lunas. Se Hee jelas punya perhitungan matang lebih dari saya. Dia bahkan sudah memilih dimana dia akan mati. Dia ingin mati di kamar yang ditempati Ji Ho.

Untuk urusan mati, saya memilih mendaftar sebagai pendonor kornea. Saya juga menabung untuk membiayai biaya kematian saya sendiri. Aneh nggak sih saya?

Pada Akhirnya…

Dua drama di atas menjadi semacam teman. Ada perasaan-perasaan yang terwakili dan digambarkan dengan baik.

Maka pada kelanjutan saya berpetualang dengan drama korea. Apabila belum bisa membuat saya merasakan seperti kedua drama di atas maka belum bisa dikatakan terbaik.

Maka saya sudahi saja sesi curhatnya. Terima kasih.

Semoga saya senantiasa sehat. Begitu juga kalian.

You May Also Like

6 Comments

  1. Dua2 nya drama kesukaan saya yg pernah direwatch jg.. ❤️
    Sudah nonton discovery of love? Yg main eric mun jg, qlihat tulisanx suka sama eric, saya awalx kesemsemx pas nntn drama ini sbelum another miss oh.. Entah karena kisahx yg mirip sama percintaan saya atw krn usia waktu nonton blm terlalu jenuh dgn drama, tp itu sya ulang smpe 3x 🤪
    Pas cek penulisx sya gk nemu karyax yg sya suka slain ini, pdahal karyax lumayan banyak
    Coba deh dtonton dlu 😅 (maksa)
    Ttg cewek yg ktemu sama mantanx lg, kadang mikir klo w ktemu ama mantan lg gmna yah
    Tp ceritax ini mewakili skali emang prasaan cewek2 yg pacaran lama sma cowok, awalx dkejar2, lama2 jd yg ngejar2, apalagi klo itu pengalaman pertama dlm hubungan (jdi curhat 😅), berasa banged patah hatinya jung yoo mi dsni (suka jg sma akting jung yoo mi dr sni)

  2. baik my mister atau because this is my first life, keduanya sangat dekat dengan kehidupan, gak ada adegan lebay yg gimana gitu ya. terus tiap tokoh punya kisah masing masing dan porsinya pas semua. waktu nonton BTIMFL pertama kali saya baru 23tahun (sekarang udah 26 jalan 27 hihihi), saya menyadari bahwa ada juga toh cinta yg dewasa begini, sampai terkagum kagum. walaupun (dari lahir wkkwk) sampe sekarang masih jomblo, saya harap kelak kisah cinta saya bisa sedewasa itu 🙂 no drama drama gak penting, gak perlu ada emosi yg meletup letup, cukup saling terbuka dan menghargai kayak jiho dan sehee. hahaha halu dikit gak papalah ya.
    cuma disink aku bisa banyak ketemu orangorang yg seleranya sama. suka sebel karna kebanyakan temen temen yg nonton dramaa doyannya sama pemain yg cakepcakep doang, kalo disodorin drama begini pasti bilaangnya males ih pemainnya gak cakep -_-

Tinggalkan Balasan ke Ti Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!